Siapa sih yang nggak pengin punya hidup enak? Jalan-jalan ke luar negeri, punya mobil mewah, atau koleksi barang-barang branded? Kayaknya itu semua impian banyak orang. Hal-hal seperti itu yang sering kita sebut sebagai kebutuhan tersier. Tapi, apa sih sebenarnya kebutuhan tersier itu? Dan kenapa banyak orang rela bekerja keras, bahkan sampai berutang, demi memenuhinya?
Artikel ini akan mengupas tuntas tentang kebutuhan tersier, mulai dari pengertian, berbagai contoh, sampai cara bijak mengelolanya. Kita juga akan bahas bagaimana impian-impian ini, jika tidak dikelola dengan baik, bisa berbalik menjadi beban. Yuk, kita selami lebih dalam!
Apa Itu Kebutuhan Tersier?
Kita semua tahu ada tiga jenis kebutuhan manusia: primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer itu yang paling dasar dan harus dipenuhi, seperti sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal). Tanpa ini, kita nggak bisa hidup dengan layak.
Setelah kebutuhan primer terpenuhi, baru kita melirik kebutuhan sekunder. Ini adalah kebutuhan pelengkap yang bikin hidup kita lebih nyaman, contohnya perabot rumah tangga, alat transportasi standar, atau gadget untuk komunikasi.
Nah, setelah primer dan sekunder beres, barulah muncul kebutuhan tersier. Ini nih kebutuhan yang seringkali disebut "kebutuhan mewah". Kebutuhan tersier sifatnya nggak esensial buat kelangsungan hidup. Tujuannya lebih ke arah kepuasan pribadi, peningkatan status sosial, atau sekadar memenuhi gaya hidup. Memenuhinya sah-sah saja, tapi harus bijak. Karena seringnya, kebutuhan ini memakan biaya yang lumayan besar.
Cek juga : Investasi Jangka Panjang Terbaik yang Bisa Kamu Pilih
Perbedaan Kebutuhan Tersier dengan Kebutuhan Lain
Poin pentingnya, kebutuhan tersier itu sifatnya relatif, loh. Apa yang dianggap tersier buat seseorang, bisa jadi sekunder buat orang lain. Contohnya, punya mobil mewah seperti Lamborghini mungkin adalah kebutuhan tersier bagi banyak orang. Tapi, bagi seorang kolektor mobil atau pebisnis sukses, mobil itu bisa jadi bagian dari aset atau bahkan investasi.
Intinya, kebutuhan tersier itu nggak melulu soal barang, tapi juga bisa berupa pengalaman, jasa, atau hobi. Makanya, mengelola finansial untuk memenuhi kebutuhan ini butuh perencanaan yang matang. Salah-salah, bisa-bisa cuma jadi bumerang yang bikin pusing di kemudian hari.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Tersier
Kenapa sih seseorang bisa punya banyak kebutuhan tersier? Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:
Tingkat Pendapatan dan Gaya Hidup
Ini faktor yang paling jelas. Semakin tinggi pendapatan, semakin besar juga keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih “wah”. Seringkali, pemenuhan kebutuhan tersier menjadi semacam “hadiah” atau penghargaan atas kerja keras yang sudah dilakukan. Gaya hidup dan lingkungan pergaulan juga ikut andil. Ketika teman-teman di sekitar sudah sering liburan ke luar negeri atau punya barang-barang branded, nggak jarang kita ikut-ikutan pengen.
Status Sosial dan Pengakuan
Nggak bisa dipungkiri, banyak orang memenuhi kebutuhan tersier untuk menaikkan status sosial. Punya barang mewah, berlibur di tempat eksklusif, atau makan di restoran mahal seringkali dianggap sebagai simbol kesuksesan. Tujuannya adalah untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Sayangnya, kalau tujuannya cuma untuk pamer, ini bisa jadi jebakan yang berbahaya.
Perkembangan Teknologi dan Informasi
Di era digital ini, informasi datang begitu cepat. Iklan-iklan di media sosial yang menampilkan gaya hidup mewah seringkali memicu keinginan untuk punya hal serupa. Ditambah lagi dengan kemudahan belanja online dan tawaran cicilan, rasanya barang-barang impian itu jadi lebih mudah dijangkau. Tapi ingat, kemudahan ini juga bisa jadi awal dari masalah finansial jika tidak dikendalikan.
Contoh Kebutuhan Tersier yang Paling Populer
Biar lebih jelas, yuk kita lihat beberapa contoh kebutuhan tersier yang sering kita temui sehari-hari:
Hiburan dan Hobi Mahal
Ini adalah salah satu contoh kebutuhan tersier yang paling umum. Hobi-hobi tertentu bisa jadi sangat mahal, lho. Contohnya, koleksi jam tangan mewah, barang antik, atau hobi traveling ke destinasi-destinasi eksklusif. Menonton konser artis internasional di luar negeri, berlangganan layanan streaming premium yang banyak, atau punya alat-alat olahraga profesional juga termasuk di dalamnya. Semua ini nggak esensial buat bertahan hidup, tapi bisa memberikan kepuasan dan pengalaman yang nggak terlupakan.
Gaya Hidup dan Fashion
Pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris branded adalah contoh klasik dari kebutuhan tersier. Walaupun kita sudah punya pakaian yang layak (kebutuhan primer), punya tas dari brand ternama seringkali dianggap sebagai statement atau simbol status. Hal ini juga berlaku untuk kendaraan mewah, seperti mobil sport atau motor gede (moge). Fungsinya sama-sama sebagai alat transportasi, tapi nilai prestise dan harganya jauh berbeda.
Investasi untuk Kenikmatan dan Kenyamanan
Kebutuhan tersier juga bisa berupa investasi yang berfokus pada kenikmatan. Contohnya, membeli properti mewah seperti villa di Bali atau apartemen di kawasan elit. Memang, ini bisa jadi aset, tapi niat awalnya seringkali adalah untuk menikmati kenyamanan dan gaya hidup yang lebih tinggi, bukan murni untuk investasi.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kebutuhan tersier adalah kebutuhan manusia yang bersifat mewah, tidak esensial untuk bertahan hidup, dan umumnya dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Kebutuhan ini berkaitan dengan gaya hidup, status sosial, dan kepuasan pribadi.
Apa saja contoh kebutuhan tersier?
Contohnya sangat beragam, seperti liburan ke luar negeri, membeli kendaraan mewah, koleksi barang branded, perhiasan mahal, hingga hobi yang membutuhkan biaya besar seperti golf atau yachting.
Bagaimana cara membedakan kebutuhan tersier dan sekunder?
Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan pelengkap yang meningkatkan kenyamanan hidup, seperti punya televisi atau perabotan rumah tangga. Sedangkan kebutuhan tersier lebih ke arah kemewahan dan peningkatan status. Misalnya, punya motor biasa adalah kebutuhan sekunder, tapi punya moge (motor gede) adalah kebutuhan tersier
Bisalunas hadir untuk membantu orang-orang seperti kamu yang sedang berjuang melunasi utang. Bisalunas punya program layanan ringan yang dirancang khusus untuk meringankan beban utangmu.
Bisalunas akan bantu mediasikan supaya kamu mendapatkan rencana pembayaran baru yang lebih ringan, disesuaikan dengan kemampuan finansialmu saat ini. Hasilnya? Cicilan bulananmu jadi lebih ringan, jadi bayar utang nggak lagi terasa berat.
Jadi, kalau kamu merasa tertekan oleh utang yang menumpuk akibat mengejar kebutuhan tersier, jangan ragu untuk mencari bantuan. Kebutuhan tersier memang penting untuk kualitas hidup, tapi hidup yang tenang dan bebas utang jauh lebih berharga.