Ketika utang sudah macet, kebanyakan orang panik. Telepon dari penagih datang bertubi-tubi, bunga terus berjalan, dan tekanan mental meningkat setiap hari. Sayangnya, dalam kondisi emosional seperti ini, banyak orang justru mengambil keputusan yang salah.
Alih-alih menyelesaikan masalah, strategi yang keliru justru membuat beban utang makin besar dan makin sulit dikendalikan.
Lalu sebenarnya, kesalahan apa saja yang paling sering terjadi?
Mengambil Utang Baru untuk Menutup Utang Lama
Ini kesalahan paling umum.
Banyak orang memilih gali lubang tutup lubang: pinjam dari kartu kredit lain, KTA baru, bahkan pinjaman online, hanya untuk membayar cicilan yang macet.
Sekilas terlihat seperti solusi cepat. Tapi secara matematis, ini memperbesar total bunga dan risiko gagal bayar berikutnya. Anda tidak menyelesaikan masalah pokok, hanya memindahkan tekanan ke tempat lain.
Jika sumber masalahnya adalah cash flow yang sudah tidak sehat, menambah utang baru hanya mempercepat kehancuran finansial.
Menghindar dari Pihak Bank atau Penagih
Sebagian orang memilih memblokir nomor, menghindari komunikasi, atau bahkan mengganti nomor HP.
Strategi ini tidak menyelesaikan apa pun. Justru biasanya:
Bunga dan denda tetap berjalan
Status kolektibilitas makin buruk
Risiko penagihan makin intens
Dalam banyak kasus, bank sebenarnya terbuka untuk negosiasi restrukturisasi atau keringanan, tetapi komunikasi harus tetap dijaga.
Membayar Tanpa Strategi Negosiasi
Ini yang jarang disadari.
Ada orang yang sudah punya dana untuk membayar sebagian utang, tetapi langsung transfer begitu saja tanpa negosiasi terlebih dahulu.
Padahal dalam kondisi tertentu, terutama jika sudah menunggak cukup lama, sering kali ada peluang:
Penghapusan sebagian bunga
Diskon pelunasan (settlement)
Skema cicilan ulang yang lebih ringan
Tanpa strategi mediasi yang tepat, Anda bisa saja membayar lebih dari yang seharusnya.
Percaya Solusi Instan yang Tidak Jelas Legalitasnya
Ketika sedang tertekan, orang mudah tergoda dengan janji:
“Bisa hapus utang 100%”
“Blacklist SLIK bisa hilang dalam seminggu”
“Tidak perlu bayar sama sekali”
Secara hukum dan sistem perbankan di Indonesia, klaim seperti ini sangat patut dicurigai. Sistem seperti SLIK OJK memiliki mekanisme resmi, bukan sesuatu yang bisa “dibersihkan” secara instan tanpa proses.
Jika ada yang menawarkan jalan pintas tanpa transparansi, justru berisiko menambah kerugian.
Tidak Menghitung Ulang Kondisi Keuangan Secara Realistis
Banyak orang fokus pada cicilan, tapi tidak menghitung:
Total sisa pokok
Total bunga berjalan
Rasio cicilan terhadap penghasilan
Aset yang bisa dioptimalkan
Tanpa gambaran utuh, strategi yang diambil hanya berdasarkan perasaan, bukan angka.
Padahal penyelesaian utang yang efektif selalu berbasis pada perhitungan dan negosiasi terstruktur.
Strategi yang Lebih Tepat Saat Utang Sudah Macet
Jika utang sudah masuk kategori macet (kolektibilitas 3–5), pendekatannya berbeda dibanding sekadar telat bayar.
Beberapa langkah yang lebih rasional:
Evaluasi total kewajiban secara menyeluruh
Prioritaskan utang dengan risiko hukum atau bunga tertinggi
Buka komunikasi resmi dengan pihak bank
Ajukan restrukturisasi atau skema keringanan
Gunakan mediasi profesional jika diperlukan
Mediasi bukan berarti menghindari kewajiban. Justru sebaliknya, mediasi bertujuan mencari titik temu yang realistis antara kemampuan bayar debitur dan kebijakan kreditur.
Kenapa Banyak Orang Tetap Salah Strategi?
Karena keputusan diambil saat panik.
Saat emosi mendominasi, orang cenderung:
Mencari solusi tercepat
Menghindari rasa tidak nyaman
Percaya janji instan
Padahal penyelesaian utang adalah proses negosiasi dan perhitungan, bukan sekadar bayar atau tidak bayar.
Kalau boleh jujur dan kritis: sering kali masalahnya bukan hanya utangnya, tetapi pola pengambilan keputusan finansial yang reaktif dan tanpa strategi.
Utang macet bukan akhir segalanya. Namun strategi yang salah bisa membuat situasi jauh lebih buruk.
Kesalahan paling umum adalah:
Gali lubang tutup lubang
Menghindar dari komunikasi
Membayar tanpa negosiasi
Percaya solusi instan
Tidak membuat perhitungan realistis
Solusi yang lebih efektif adalah pendekatan terstruktur, legal, dan berbasis negosiasi.
Jika Anda sedang menghadapi masalah kartu kredit atau KTA yang sudah macet, yang dibutuhkan bukan panik tetapi strategi yang tepat.