Banyak orang tertarik masuk ke pasar modal karena melihat cerita sukses teman atau influencer yang pamer portofolio hijau. Rasanya menggiurkan, apalagi kalau mendengar istilah financial freedom.
Tapi, realitanya tidak selalu seindah itu. Di balik potensi keuntungan (return) yang tinggi, pasar modal selalu menyimpan risiko. Kalau tidak hati-hati, bukannya untung, modal yang kamu kumpulkan susah payah malah bisa tergerus.
Artikel ini akan membahas risiko apa saja yang ada di pasar modal dan—yang paling penting—bagaimana cara mengelolanya supaya pengalaman investasimu tetap aman dan tidak mengganggu stabilitas keuangan.
Cek juga: Jenis Investasi Jangka Pendek Terbaik Pakai Modal Kecil
Apa Itu Risiko Pasar Modal?
Secara sederhana, risiko dalam pasar modal adalah kemungkinan hasil investasi yang kamu dapatkan tidak sesuai dengan harapan. Bisa jadi keuntungannya lebih kecil dari prediksi, atau malah mengalami kerugian modal (loss).
Prinsip dasarnya adalah High Risk, High Return. Semakin tinggi potensi keuntungannya, biasanya semakin tinggi pula risiko yang menyertainya. Tidak ada instrumen investasi yang 100% aman dan pasti untung besar dalam waktu singkat.
Jenis-Jenis Risiko Utama di Pasar Modal
Sebelum kamu menekan tombol "Buy" di aplikasi sekuritas, pahami dulu beberapa risiko yang mungkin terjadi:
1. Capital Loss
Ini adalah risiko yang paling umum. Capital loss terjadi ketika kamu menjual aset (saham, reksa dana, atau obligasi) di harga yang lebih rendah daripada harga belinya.
Misalnya, kamu membeli saham A di harga Rp1.000 per lembar. Karena kinerja perusahaan memburuk, harganya turun ke Rp800. Jika kamu menjualnya saat itu, kamu mengalami kerugian sebesar Rp200 per lembar.
2. Risiko Likuiditas
Pernahkah kamu punya barang yang ingin dijual, tapi tidak ada yang mau beli? Di pasar modal, ini disebut risiko likuiditas.
Ini sering terjadi pada saham-saham "tidur" atau obligasi korporasi tertentu yang sepi peminat. Akibatnya, saat kamu butuh uang tunai mendadak, aset tersebut sulit dicairkan atau harus dijual dengan harga diskon yang sangat murah agar laku.
3. Risiko Delisting (Khusus Saham)
Bursa Efek Indonesia (BEI) punya aturan ketat. Jika sebuah perusahaan emiten melanggar aturan berat atau bangkrut, sahamnya bisa dihapus dari pencatatan bursa (delisting).
Jika ini terjadi, saham yang kamu miliki tidak bisa lagi diperdagangkan di pasar reguler. Dalam kasus terburuk (perusahaan pailit), uang investor bisa hilang sepenuhnya.
4. Risiko Pasar (Market Risk)
Ini adalah risiko yang tidak bisa dihindari karena faktor eksternal. Contohnya:
-
Krisis ekonomi global.
-
Kenaikan suku bunga acuan.
-
Ketidakstabilan politik dalam negeri.
Ketika sentimen pasar sedang negatif, harga saham-saham bagus (blue chip) pun bisa ikut turun, meskipun kinerja perusahaannya sebenarnya sehat.
Cara Mengelola Risiko Agar Investasi Tetap Sehat
Kabar baiknya, risiko bisa dikelola (manageable). Kamu tidak perlu takut berinvestasi, asalkan menerapkan strategi yang tepat.
1. Lakukan Diversifikasi
Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Jangan belikan seluruh modalmu hanya pada satu saham atau satu jenis instrumen saja.
Sebarlah danamu ke beberapa instrumen. Contoh:
-
40% di saham (risiko tinggi).
-
30% di obligasi negara (risiko sedang).
-
30% di reksa dana pasar uang (risiko rendah).
Dengan begitu, jika pasar saham sedang jatuh, nilai asetmu di obligasi dan pasar uang mungkin masih stabil atau naik, sehingga portofoliomu tidak hancur total.
2. Gunakan "Uang Dingin"
Ini aturan emas yang sering dilanggar pemula. Gunakan hanya uang yang tidak akan kamu pakai dalam waktu dekat (minimal 1–3 tahun ke depan).
Jangan pernah menggunakan uang untuk bayar sewa rumah, uang sekolah anak, apalagi uang hasil pinjaman (leverage) untuk berinvestasi di pasar modal yang fluktuatif.
3. Fokus Jangka Panjang
Pasar modal sangat fluktuatif dalam jangka pendek. Hari ini naik, besok bisa turun drastis. Namun, secara historis, tren pasar modal cenderung naik dalam jangka panjang (di atas 5 tahun).
Jika kamu berinvestasi untuk jangka panjang, penurunan harga sementara tidak akan terlalu membuatmu panik.
4. Analisis Fundamental, Bukan Ikut-ikutan
Belilah aset karena kamu paham bisnisnya dan kinerjanya bagus, bukan karena "kata orang" atau Fear of Missing Out (FOMO). Pelajari laporan keuangannya, prospek bisnisnya, dan siapa manajemen di baliknya.
Penting: Bereskan Utang Sebelum Masuk Pasar Modal
Poin ini sering dilupakan. Sebelum memikirkan potensi keuntungan 10-15% per tahun di pasar modal, coba cek dulu kondisi keuanganmu saat ini.
Apakah kamu masih memiliki utang konsumtif atau pinjaman online dengan bunga tinggi?
Bunga pinjaman online atau kartu kredit seringkali jauh lebih besar daripada rata-rata keuntungan investasi. Tidak masuk akal jika kamu mengejar untung investasi 15% setahun, tapi di sisi lain harus membayar bunga utang 20-30% setahun.
Idealnya, lunasi dulu kewajiban utangmu. Setelah arus kas (cashflow) positif dan dana darurat terkumpul, barulah kamu bisa masuk ke pasar modal dengan tenang dan mental yang sehat.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah pasar modal aman untuk pemula?
Aman, selama kamu berinvestasi pada instrumen yang diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan melalui perusahaan sekuritas yang legal. Risikonya ada pada fluktuasi harga, bukan pada keamanan uang dibawa lari (asalkan brokernya legal).
Berapa modal minimal untuk mulai berinvestasi agar risikonya kecil?
Sekarang kamu bisa mulai dengan modal Rp100.000 saja, baik untuk saham maupun reksa dana. Mulai dengan nominal kecil dulu untuk belajar memahami pergerakan pasar (learning by doing) sebelum menambah modal lebih besar.
Apa bedanya trading dan investasi? Mana yang lebih berisiko?
Investasi fokus pada pertumbuhan nilai jangka panjang, sedangkan trading memanfaatkan kenaikan harga jangka pendek. Umumnya, trading memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dan membutuhkan keahlian analisis teknikal yang mendalam serta mental yang kuat.
Pasar modal adalah sarana yang hebat untuk mengembangkan kekayaan, tapi bukan tempat untuk mencari uang instan. Pahami risikonya, kelola modalnya, dan pastikan fondasi keuanganmu sudah kuat sebelum terjun lebih dalam.
Kalau saat ini kamu merasa belum siap investasi karena masih terbebani cicilan utang yang menumpuk, jangan dipaksakan. Fokuslah menyelesaikan satu per satu.
Ingin melunasi utang agar bisa mulai menata masa depan finansial yang lebih baik? Konsultasikan masalahmu dengan tim Bisalunas hari ini untuk mendapatkan solusi yang lebih ringan.