Edukasi Pinjol

Mitos Keuangan yang Umum di Indonesia dan Kenapa Banyak Orang Tetap Terjebak

A
Administrator
29 Oct 2025
Mitos Keuangan yang Umum di Indonesia dan Kenapa Banyak Orang Tetap Terjebak

Habis gajian rasanya jadi sultan. Baru tanggal 5, tapi kok uang di rekening sudah menipis lagi? Padahal, rasanya kita sudah smart soal uang. Kita rajin cari diskon di marketplace, pintar hitung cicilan paylater, dan tahu promo cashback terbaru.

Tapi, kenapa rasanya boncos terus dan tagihan seolah nggak ada habisnya?

Jawabannya mungkin sederhana: kita terjebak mitos keuangan yang terdengar benar, padahal pelan-pelan merusak dompet. Ini bukan salah Anda sepenuhnya. Banyak nasihat keliru—dari obrolan warung kopi sampai influencer di media sosial—yang akhirnya kita telan mentah-mentah.

Mari kita bongkar satu per satu, mitos apa saja yang bikin keuangan kita sulit sehat.

 

Konsultasi Gratis Sekarang!

 

Cek juga:Cara Memperbaiki Bi Checking Jelek yang Efektif, Pasti Berhasil

 

Kenapa Mitos Keuangan Begitu Mudah Dipercaya?

Sebelum membongkar mitosnya, kita perlu paham kenapa mitos keuangan pribadi bisa menyebar lebih cepat dari gosip tetangga. Seringkali, alasannya sangat manusiawi:

  • Budaya “Ikut-ikutan”: Lihat teman posting barang baru hasil cicilan, kita jadi merasa itu hal yang normal. "Orang lain bisa kok, masa gue nggak?"

  • Tekanan Gaya Hidup (FOMO): Media sosial menciptakan standar hidup yang semu. Takut ketinggalan (FOMO) bikin kita merasa harus punya apa yang orang lain punya, walau harus gali lubang tutup lubang.

  • Kurangnya Literasi Keuangan Praktis: Kita diajari cara cari uang, tapi jarang diajari cara mengelolanya. Informasi keuangan yang njlimet dari pakar bikin kita lebih percaya nasihat instan yang praktis, walau menyesatkan.

  • Ilusi Pengetahuan dari Medsos: Nonton video 30 detik soal "cara cepat kaya" atau "tips investasi pemula" rasanya sudah cukup. Padahal, itu baru permukaannya saja dan seringkali tidak sesuai konteks keuangan kita.

 

7 Mitos Keuangan yang Paling Umum di Indonesia (dan Faktanya)

Inilah beberapa mitos yang paling sering menjebak, lengkap dengan fakta dan solusi yang lebih sehat.

 

Mitos 1: “Selama masih bisa bayar cicilan bulanan, berarti keuangan aman.”

Ini adalah pemikiran klasik pengguna paylater atau kartu kredit yang merasa aman "asal bisa bayar" 200 ribu di sana-sini, hingga akhirnya cicilan menumpuk. Faktanya, yang penting bukanlah "bisa bayar", melainkan rasio utang Anda. Idealnya, total semua cicilan utang konsumtif tidak boleh lebih dari 30% pendapatan bersih bulanan. Jika Anda melanggar ini, risiko jangka panjangnya adalah Anda akan hidup paycheck to paycheck hanya untuk membayar utang, tanpa sisa untuk dana darurat. Satu kejadian tak terduga bisa langsung membuat Anda gagal bayar. Solusi yang lebih sehat adalah segera hitung total cicilan Anda. Jika sudah di atas 30%, STOP tambah utang baru dan fokus lunasi satu per satu.

 

Mitos 2: “Pinjol aman kok, asal pilih yang bunganya kecil di awal.”

Banyak yang tergoda promo "bunga 0%" atau biaya admin rendah, apalagi jika butuh dana cepat. Faktanya, banyak pinjaman (terutama yang ilegal) punya biaya tersembunyi yang bunganya bisa melonjak tinggi setelah tenor awal habis atau memiliki denda keterlambatan yang tidak masuk akal. Risiko jangka panjangnya adalah Anda terjebak lingkaran setan utang, skor kredit di SLIK OJK hancur, dan Anda sulit mengajukan KPR di masa depan, belum lagi risiko intimidasi debt collector. Solusi lebih sehat adalah selalu cek legalitas pinjol di OJK, pinjam hanya untuk kebutuhan darurat, dan jika sudah terlanjur terjerat, segera cari [solusi pinjaman online] yang aman dan legal untuk restrukturisasi.

 

Mitos 3: “Gaji UMR/kecil nggak usah mikir investasi, fokus nabung aja.”

Ini adalah mitos investasi pemula yang paling berbahaya karena berpikir investasi hanya untuk orang kaya. Faktanya, investasi bukan soal besarnya uang, tapi soal konsistensi dan waktu untuk melawan musuh terbesar kita: inflasi. Risiko jangka panjang dari hanya menabung adalah nilai uang Anda menyusut; 10 tahun lagi, uang Rp 10 juta mungkin daya belinya tinggal setengahnya. Solusi yang lebih sehat adalah mulai saja dulu, bahkan dari Rp 100.000 sebulan di instrumen risiko rendah seperti Reksa Dana Pasar Uang, untuk membangun kebiasaan.

 

Mitos 4: “Yang penting menabung di bank, itu sudah cukup.”

Ini adalah mitos menabung klasik warisan orang tua yang menganggap bank adalah tempat paling aman dengan bunga. Faktanya, menabung di bank itu penting, tapi tujuannya untuk likuiditas (kebutuhan harian) dan dana darurat, bukan untuk tujuan jangka panjang. Bunga tabungan biasa sangat kecil dan akan kalah oleh inflasi tahunan. Risikonya, saat Anda pensiun atau butuh biaya besar di masa depan, tabungan Anda tidak akan cukup. Solusi lebih sehat adalah pisahkan rekening: tabungan untuk dana darurat (3-6x pengeluaran bulanan), dan mulailah investasi untuk tujuan jangka panjang.

 

Mitos 5: “Punya kartu kredit itu pasti bikin boros dan banyak utang.”

Banyak yang menganggap kartu kredit sebagai "kartu setan" karena sistem "gesek dulu, bayar nanti". Faktanya, kartu kredit adalah alat yang netral; bisa membantu cash flow dan membangun riwayat kredit, atau bisa melukai jika dipakai tanpa kontrol. Risiko jangka panjang jika Anda menghindarinya total adalah Anda kehilangan kesempatan membangun riwayat kredit yang baik, yang sangat penting saat ingin mengajukan utang produktif seperti KPR. Solusi lebih sehat adalah gunakan kartu kredit hanya untuk transaksi yang Anda tahu pasti sanggup bayar lunas bulan depan, dan selalu bayar full payment sebelum jatuh tempo.

 

Mitos 6: “Beli barang pas diskon besar-besaran (10.10, 11.11) itu artinya hemat.”

Siapa yang tidak suka lihat label "Diskon 70%"? Kita merasa untung besar. Faktanya, Anda baru hemat kalau Anda memang berencana membeli barang itu. Kalau Anda membeli sesuatu hanya karena sedang diskon (padahal tidak butuh), Anda bukan hemat, Anda hanya mengeluarkan uang. Risiko jangka panjangnya adalah timbunan barang tidak terpakai di rumah dan uang yang seharusnya bisa ditabung habis untuk belanja impulsif. Solusi lebih sehat adalah buat wishlist kebutuhan dan hanya beli barang di wishlist saat diskon, bukan sebaliknya.

 

Mitos 7: “Semua utang itu buruk. Hindari sama sekali.”

Nasihat ini terdengar sangat bijak, tapi terlalu menyederhanakan masalah. Faktanya, utang terbagi dua: utang konsumtif (Paylater untuk ngopi, nilainya turun) dan utang produktif (KPR untuk rumah pertama, modal usaha) yang asetnya berpotensi naik nilainya. Risiko jangka panjang jika Anda anti-utang sama sekali adalah Anda mungkin jadi terlalu takut mengambil KPR, padahal harga rumah naik terus setiap tahun dan tabungan Anda tidak pernah bisa mengejarnya. Solusi lebih sehat adalah pahami beda utang baik dan utang buruk, kelola utang produktif dengan rasio sehat, dan hapus utang konsumtif.

 

Konsultasi Gratis Sekarang!

 

Bagaimana Cara Mengatur Keuangan Pribadi yang Benar?

Oke, setelah tahu mitosnya, sekarang bagaimana cara mengatur keuangan pribadi yang realistis? Lupakan rumus rumit yang bikin pusing. Mulailah dengan 4 langkah praktis ini dalam cara mengelola gaji bulanan Anda:

 

  1. Tahu Uangnya ke Mana (Tracking): Nggak perlu aplikasi fancy. Cukup catat semua pengeluaran selama sebulan di notes HP atau buku. Anda akan kaget melihat berapa banyak uang habis untuk delivery makanan, langganan streaming, atau parkir.

  2. Siapkan 'Payung' (Dana Darurat): Ini prioritas #1, bahkan sebelum investasi. Sisihkan minimal 3x pengeluaran bulanan di rekening terpisah yang mudah diakses tapi tidak diutak-atik. Ini pelindung Anda kalau tiba-tiba ada musibah (PHK, sakit, musibah keluarga).

  3. Jaga Rasio Utang: Seperti dibahas di Mitos 1, jaga total cicilan utang Anda (khususnya konsumtif) di bawah 30% dari gaji bersih Anda. Jika lebih, Anda dalam zona bahaya.

  4. Punya Tujuan Jelas (Goal Setting): "Menabung" saja tidak memotivasi. Buat tujuan yang jelas untuk perencanaan keuangan pribadi Anda: "Nabung Rp 500 ribu/bulan untuk DP rumah" atau "Investasi Rp 300 ribu/bulan untuk biaya sekolah anak". Ini membuat Anda lebih disiplin.

 

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa saja mitos keuangan yang paling umum?

Beberapa mitos yang umum adalah: "selama bisa bayar cicilan berarti aman", "gaji kecil tidak perlu investasi", "pinjol bunga rendah pasti aman", dan "menabung di bank saja sudah cukup untuk masa depan".

Mitos utamanya adalah menabung di bank sudah cukup untuk semua tujuan keuangan. Faktanya, menabung di bank cocok untuk dana darurat, tapi tidak cukup untuk tujuan jangka panjang (seperti pensiun) karena nilainya akan tergerus inflasi.

Banyak faktor, di antaranya adalah tekanan gaya hidup dan FOMO dari media sosial, ilusi pengetahuan instan, serta kurangnya literasi keuangan praktis yang diajarkan sejak dini. Banyak orang lebih fokus mencari uang daripada mengelolanya.

Konsultasi Gratis Sekarang!

Membongkar mitos keuangan adalah langkah pertama untuk memiliki keuangan yang sehat. Mengelola uang bukanlah soal seberapa pintar Anda matematika atau seberapa besar gaji Anda. Ini soal kebiasaan, informasi yang tepat, dan keberanian untuk mengubah pola pikir yang salah.

Anda tidak harus jadi pakar tips keuangan dalam semalam. Mulailah dari satu langkah kecil hari ini: cek kembali cicilan Anda, dan catat pengeluaran Anda.

Butuh Bantuan Mediasi Utang?

Tim ahli kami siap membantu Anda menyelesaikan masalah hutang pinjaman online. Konsultasi GRATIS!

Konsultasi via WhatsApp
Bisalunas Logo

Solusi finansial terpercaya untuk membantu Anda mencapai kebebasan finansial dengan aman dan nyaman.

Kontak

  • Menara Anugrah, Lt. 16, Unit 16.A, Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot. 8.6-8.7, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 12950
  • 0858-6600-6000
  • cs@bisalunas.id

Terdaftar di Komdigi

015358.01/DJAI.PSE/08/2024

Perhatian

  1. 1. Bisalunas merupakan layanan mediasi yang membantu masyarakat yang memiliki kendala dalam pembayaran pinjaman daring dengan cara menjembatani komunikasi antara debitur dan pihak pemberi pinjaman secara legal, manusiawi, dan transparan.
  2. 2. Bisalunas bukan lembaga keuangan, bukan penyedia pinjaman (lender), dan tidak melakukan kegiatan penagihan atau pemberian dana dalam bentuk apa pun. Peran Bisalunas terbatas pada proses mediasi agar tercapai kesepakatan yang adil antara kedua pihak.
  3. 3. Pengguna layanan disarankan untuk memahami sepenuhnya risiko, ketentuan, dan kemampuan finansialnya sebelum menyetujui hasil mediasi atau rencana pembayaran. Bisalunas akan memberikan panduan dan informasi secara objektif, namun tidak menjanjikan penghapusan, pengurangan, ataupun keberhasilan negosiasi dalam jumlah tertentu.
  4. 4. Dalam pelaksanaan layanan, Bisalunas dapat mengumpulkan dan mengelola data pribadi pengguna sesuai dengan persetujuan eksplisit yang diberikan oleh pengguna. Seluruh data digunakan hanya untuk keperluan mediasi dan dijaga sesuai dengan peraturan perlindungan data pribadi yang berlaku di Indonesia.
  5. 5. Dengan menggunakan layanan Bisalunas, pengguna dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui seluruh ketentuan ini. Keputusan untuk melanjutkan proses mediasi berarti pengguna menyadari sepenuhnya peran, batasan, serta tanggung jawab masing-masing pihak.
  6. 6. Bisalunas berkomitmen untuk menjalankan kegiatan secara etis, transparan, dan sesuai hukum, demi membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan pinjaman online secara bertanggung jawab dan bermartabat.

© 2025 Bisalunas. Seluruh hak cipta dilindungi.

Bisalunas

Bisalunas Verified

Fast Response

Sulit atur tagihan pinjol? Yuk, cari solusi bersama Bisalunas. Kami bantu mediasi untuk mengurangi beban tagihan kamu. Konsultasi GRATIS!