Zaman sekarang, siapa sih yang nggak pengen punya kebebasan finansial? Punya penghasilan tambahan yang ngalir terus bahkan saat kita lagi tidur, liburan, atau sekadar rebahan santai di rumah. Nah, salah satu jalan paling populer buat mewujudkan mimpi itu adalah lewat investasi saham.
Mungkin saat mendengar kata "saham", yang terbayang di kepala kamu adalah grafik naik-turun yang bikin pusing, angka-angka rumit, dan para pialang saham di film yang teriak-teriak di telepon. Tenang, itu cuma dramatisasinya saja kok! Kenyataannya, investasi saham sekarang jauh lebih mudah diakses dan bisa dipelajari oleh siapa saja, termasuk kamu yang masih pemula banget.
Apa itu Obligasi?
Kalau ditanya apa itu obligasi, jawaban paling sederhananya adalah "surat utang". Yup, sesimpel itu. Ketika kamu membeli obligasi, pada dasarnya kamu sedang meminjamkan uang kepada pihak yang menerbitkan surat utang tersebut. Pihak ini bisa jadi pemerintah sebuah negara atau sebuah perusahaan swasta.
Sebagai bukti bahwa mereka berutang padamu, mereka akan memberikan "sertifikat" atau surat utang itu. Tentu saja, mereka nggak cuma pinjam lalu balikin uangmu begitu saja. Sebagai imbalan atas kebaikanmu meminjamkan dana, mereka akan memberikan kamu bunga secara berkala selama periode waktu yang telah disepakati. Bunga inilah yang dalam dunia obligasi disebut kupon.
Nanti, setelah jangka waktu pinjaman berakhir (ini disebut jatuh tempo), uang pokok yang kamu pinjamkan di awal akan dikembalikan sepenuhnya. Jadi, selama memegang obligasi, kamu dapat "gaji" rutin dari kupon, dan di akhir periode, modalmu kembali utuh. Mirip seperti kamu mendepositokan uang di bank, tapi ini skalanya lebih besar dan sering kali menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif. Pihak yang menerbitkan obligasi disebut emiten, sedangkan kamu sebagai pemberi pinjaman disebut investor.
Cek juga : Investasi Jangka Panjang Terbaik yang Bisa Kamu Pilih
Kenapa Sih Harus Coba Investasi Obligasi?
Mungkin kamu bertanya, "Kenapa harus obligasi? Kenapa nggak saham saja yang katanya bisa kasih untung gede?" Pertanyaan bagus! Setiap instrumen punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Obligasi punya beberapa pesona yang membuatnya jadi pilihan menarik, terutama untuk investor pemula atau yang profil risikonya konservatif.
Pendapatan Stabil dari Kupon
Ini dia daya tarik utama obligasi. Kupon atau bunga dari obligasi dibayarkan secara rutin, misalnya setiap tiga bulan, enam bulan, atau setahun sekali. Jumlahnya pun sudah ditentukan di awal, jadi kamu bisa memprediksi berapa pemasukan yang akan kamu dapatkan. Ini cocok banget buat kamu yang butuh passive income yang jelas dan teratur. Beda dengan saham yang dividennya tidak pasti dan harganya fluktuatif, obligasi memberikan kepastian arus kas.
Tingkat Keamanan yang Lebih Tinggi
Dibandingkan saham, obligasi dianggap jauh lebih aman. Kenapa? Karena obligasi adalah surat utang. Dalam struktur keuangan perusahaan, pemegang obligasi adalah kreditur yang posisinya lebih prioritas daripada pemegang saham. Artinya, jika (amit-amit) perusahaan penerbit obligasi bangkrut, aset perusahaan akan dijual untuk membayar utang kepada para pemegang obligasi terlebih dahulu. Baru kalau ada sisa, dibagikan ke pemegang saham. Apalagi kalau kamu memilih obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, risikonya nyaris nol karena dijamin langsung oleh negara.
Potensi Keuntungan Modal (Capital Gain)
Selain dapat untung dari kupon, kamu juga bisa lho dapat keuntungan dari selisih harga jual. Harga obligasi di pasar sekunder bisa naik dan turun, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti suku bunga acuan Bank Indonesia. Jika kamu berhasil menjual obligasi yang kamu miliki dengan harga lebih tinggi daripada harga belinya, selisihnya itu menjadi keuntungan modal atau capital gain buat kamu. Fleksibel, kan?
Mengenal Jenis-Jenis Obligasi yang Populer
Obligasi itu nggak cuma satu jenis. Ada beberapa kategori yang perlu kamu tahu, terutama berdasarkan siapa penerbitnya. Memahami ini akan membantumu memilih mana yang paling pas dengan tujuan dan profil risikomu.
Obligasi Pemerintah
Ini adalah jenis obligasi yang paling aman sejagat raya investasi di Indonesia. Kenapa? Karena penerbitnya adalah Pemerintah Republik Indonesia. Artinya, pembayaran kupon dan pokok utangmu dijamin 100% oleh negara melalui undang-undang. Risiko gagal bayarnya praktis tidak ada. Beberapa produk obligasi pemerintah yang sangat populer di kalangan investor ritel antara lain:
-
Obligasi Negara Ritel (ORI): Menawarkan kupon dengan bunga tetap (fixed rate) hingga jatuh tempo. ORI juga bisa diperdagangkan di pasar sekunder, jadi kamu bisa menjualnya sebelum jatuh tempo.
-
Savings Bond Ritel (SBR): Kuponnya bersifat mengambang dengan batas minimal (floating with floor). Artinya, bunganya bisa naik kalau suku bunga acuan BI naik, tapi nggak akan turun di bawah batas minimal yang ditetapkan. SBR tidak bisa diperdagangkan, tapi ada fasilitas early redemption.
-
Sukuk Ritel (SR) & Sukuk Tabungan (ST): Ini adalah versi syariah dari obligasi pemerintah. Pengelolaannya menggunakan prinsip-prinsip syariah dan sudah mendapatkan fatwa dari MUI. Cocok buat kamu yang mencari instrumen investasi halal.
Obligasi Korporasi
Nah, kalau yang ini diterbitkan oleh perusahaan swasta atau BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Tujuannya biasanya untuk mencari dana tambahan untuk ekspansi bisnis, membayar utang, atau kebutuhan modal kerja lainnya. Karena diterbitkan oleh perusahaan, obligasi korporasi memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah. Namun, sebagai kompensasinya, kupon yang ditawarkan biasanya juga lebih tinggi. Untuk mengukur tingkat risikonya, obligasi korporasi biasanya punya peringkat (rating) yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat efek seperti PEFINDO. Semakin tinggi peringkatnya (misalnya AAA), semakin aman dan rendah risikonya.
Risiko di Balik Investasi Obligasi, Wajib Tahu!
Meskipun disebut investasi aman, bukan berarti obligasi tanpa risiko sama sekali. Penting banget buat kamu untuk tahu apa saja potensi risikonya agar bisa membuat keputusan yang lebih bijak.
Risiko Gagal Bayar (Default Risk)
Ini adalah risiko di mana emiten atau penerbit obligasi tidak mampu membayar kupon atau mengembalikan uang pokok saat jatuh tempo. Risiko ini jauh lebih besar pada obligasi korporasi dibandingkan obligasi pemerintah. Makanya, penting sekali untuk mengecek kesehatan finansial dan peringkat dari perusahaan sebelum membeli obligasinya.
Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk)
Ini sedikit tricky. Harga obligasi di pasar sekunder berbanding terbalik dengan suku bunga acuan. Gampangnya begini: kalau Bank Indonesia menaikkan suku bunga, maka obligasi-obligasi baru yang terbit akan menawarkan kupon yang lebih tinggi. Akibatnya, obligasi lama yang kamu pegang dengan kupon lebih rendah jadi kurang menarik, dan harganya di pasar cenderung turun. Begitu pula sebaliknya.
Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)
Risiko ini berkaitan dengan seberapa mudah kamu bisa menjual obligasi yang kamu miliki di pasar sekunder. Beberapa obligasi mungkin kurang likuid atau jarang diperdagangkan. Akibatnya, saat kamu butuh uang cepat dan ingin menjualnya, kamu mungkin kesulitan menemukan pembeli atau terpaksa menjualnya dengan harga diskon yang cukup besar.
Langkah-Langkah Memulai Investasi Obligasi untuk Pemula
Sudah paham konsep, jenis, dan risikonya? Sekarang saatnya kita bahas cara praktis untuk memulai. Tenang, nggak seribet yang dibayangkan kok!
1. Tentukan Tujuan Keuanganmu
Langkah pertama dan paling fundamental. Kamu investasi untuk apa? Dana pensiun? Biaya pendidikan anak? Atau sekadar ingin punya pendapatan tambahan? Tujuan ini akan menentukan jenis obligasi dan jangka waktu (tenor) yang paling cocok untukmu.
2. Buka Rekening Efek
Untuk bisa bertransaksi obligasi, kamu perlu punya rekening di perusahaan sekuritas. Prosesnya sekarang sudah sangat mudah dan bisa dilakukan secara online. Siapkan saja dokumen seperti KTP, NPWP, dan buku tabungan.
3. Pilih Produk Obligasi yang Tepat
Setelah punya rekening, saatnya memilih. Kalau kamu pemula dan ingin yang paling aman, mulailah dengan obligasi pemerintah ritel seperti ORI atau SBR. Kamu bisa membelinya melalui Mitra Distribusi (Midis) yang ditunjuk oleh pemerintah, biasanya terdiri dari bank-bank besar, perusahaan sekuritas, dan beberapa platform fintech. Perhatikan masa penawarannya ya, karena tidak setiap saat tersedia. Untuk obligasi korporasi, lakukan riset mendalam tentang profil perusahaan dan peringkatnya.
4. Lakukan Pembelian dan Pantau Portofoliomu
Setelah menentukan pilihan, kamu bisa langsung melakukan pembelian melalui platform perusahaan sekuritas atau Midis pilihanmu. Ikuti saja instruksinya, prosesnya sangat intuitif. Setelah itu, kamu tinggal duduk manis menerima kupon secara berkala dan memantau investasimu sesuai kebutuhan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa beda utama antara investasi obligasi dengan saham?
Perbedaan utamanya terletak pada konsep kepemilikan dan risiko. Saat membeli obligasi, Anda menjadi pemberi utang (kreditur) kepada perusahaan/pemerintah dan mendapatkan pendapatan tetap berupa kupon. Sementara saat membeli saham, Anda menjadi pemilik sebagian kecil dari perusahaan dan potensi keuntungan (atau kerugian) Anda datang dari kenaikan harga saham dan pembagian dividen yang tidak pasti. Obligasi cenderung lebih rendah risiko daripada saham.
Apakah investasi obligasi itu dijamin 100% aman?
Tidak ada investasi yang 100% bebas risiko. Namun, obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia (seperti ORI, SBR, Sukuk) dianggap memiliki tingkat keamanan tertinggi karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh undang-undang negara. Untuk obligasi korporasi, risikonya lebih tinggi dan tergantung pada kesehatan finansial perusahaan penerbitnya.
Bagaimana cara saya mendapatkan keuntungan dari obligasi?
Ada dua cara utama. Pertama, melalui kupon atau bunga yang dibayarkan secara berkala (misalnya setiap bulan atau setiap 6 bulan) hingga jatuh tempo. Kedua, melalui capital gain, yaitu keuntungan dari selisih harga jika Anda menjual obligasi Anda di pasar sekunder dengan harga yang lebih tinggi daripada harga beli Anda.
Obligasi adalah pilihan investasi yang sangat solid, terutama bagi kamu yang mencari stabilitas, keamanan, dan pendapatan pasif yang terprediksi. Dengan memahami konsep dasarnya, mengenali jenis-jenisnya, dan sadar akan risikonya, kamu bisa menjadikan obligasi sebagai salah satu pilar penting dalam portofolio investasimu.
Ingat, kunci dari kebebasan finansial adalah mengambil tindakan. Mulailah dari langkah kecil, pelajari instrumennya, dan sesuaikan dengan kondisimu.