Pernah nggak sih kamu merasa gaji baru masuk, eh tiba-tiba tinggal sedikit padahal masih jauh dari akhir bulan? Tenang, kamu bukan satu-satunya. Banyak orang mengalami hal yang sama bahkan yang gajinya cukup besar sekalipun. Bukan karena tidak bekerja keras, tapi karena cara mengatur uangnya belum tepat.
Ngatur keuangan itu sebenarnya bukan hal rumit, hanya saja kita sering tidak sadar ke mana uang pergi. Maka dari itu, yuk kita bahas cara membagi gaji bulanan dengan lebih realistis, yang bisa diterapkan siapa pun tanpa ribet.
Cek juga: Ingin Cari Pinjaman Online Bunga Rendah? Cek 7 Hal Ini Dulu!
Kenapa Gaji Cepat Habis?
Ada tiga alasan yang paling sering terjadi:
-
Nggak punya anggaran bulanan yang jelas.
Semua serba “perkiraan”, dan ujungnya bocor di mana-mana. -
Belanja impulsif.
Diskon, flash sale, checkout dulu mikir belakangan — siapa yang nggak pernah? -
Cicilan numpuk.
Kadang satu-dua cicilan terasa ringan, tapi kalau ditotal, ternyata makan porsi terbesar dari gaji.
Menyadari masalahnya dulu penting, supaya kita tahu apa yang harus diperbaiki.
Cara Mengelola Gaji Bulanan dengan Lebih Realistis
Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba. Tidak perlu semuanya sekaligus pilih yang paling mungkin kamu jalankan dulu.
1. Bagi Pengeluaran dengan Formula 40-30-20-10
Versi ini lebih fleksibel dibanding rumus keuangan klasik yang sering beredar.
| Kebutuhan hidup | 40% |
| Cicilan | 30% |
| Tabungan/Investasi | 20% |
| Hiburan & Dana darurat | 10% |
Kalau persentasenya belum pas dengan kondisi kamu, tidak masalah. Pelan-pelan saja digeser sampai sesuai.
2. Pisahkan Rekening — Jangan Semua Jadi Satu
Ini simpel tapi ampuh banget.
-
Rekening A → tempat gaji masuk
-
Rekening B → buat kebutuhan harian
-
Rekening C → tabungan/investasi (tanpa kartu ATM lebih aman)
Dengan pot-pot seperti ini, kamu jadi tahu batas belanja dan nggak asal gesek.
3. Catat Pengeluaran Setidaknya 2 Minggu
Tujuannya bukan mempersulit diri, tapi supaya kamu punya gambaran nyata tentang pengeluaranmu.
Biasanya, dari catatan ini akan kelihatan hal-hal seperti:
-
uang bocor di jajan kecil,
-
ongkos transport nggak terkontrol,
-
langganan digital banyak tapi jarang dipakai.
Kalau sudah tahu sumber kebocorannya, memperbaiki lebih mudah.
4. Terapkan Aturan “Tunda 3 Hari”
Kalau ingin beli sesuatu yang bukan kebutuhan pokok, jangan langsung checkout.
Tunda 3 hari.
Kalau setelah itu masih kepikiran, artinya memang kamu butuh. Tapi kalau tidak, berarti cuma lapar mata.
Trik kecil, tapi efektif banget untuk menahan belanja impulsif.
5. Mulai Bangun Dana Darurat
Target pelan-pelan sampai terkumpul minimal 3–6 kali kebutuhan bulanan.
Fungsinya untuk mencegah kamu terpaksa berutang saat ada keadaan mendadak seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan rumah tangga yang tidak terduga.
Dana darurat ibarat payung mungkin terasa sepele saat cuaca cerah, tapi sangat menolong ketika hujan datang.
Contoh Simpel Pembagian Gaji
Misal gaji kamu Rp4.500.000/bulan, cicilan ada Rp1.000.000.
Pembagiannya bisa seperti ini:
| Kebutuhan hidup | ± Rp1.800.000 |
| Cicilan | Rp1.000.000 |
| Tabungan/Investasi | Rp900.000 |
| Hiburan + Dana Darurat | Rp800.000 |
Tentu angka ini bukan pakem. Kamu bisa menyesuaikan sesuai gaya hidup dan kondisi keuangan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa persen ideal untuk ditabung?
Minimum 10–20% dari penghasilan. Kalau bisa lebih, lebih bagus.
Nggak harus langsung besar, tapi mulailah sedikit-sedikit. Nilainya pelan-pelan tercapai kok.
Kenapa catatan keuangan penting?
Supaya kamu bisa melihat kebiasaan belanja yang sering tidak disadari.
Gaji cepat habis bukan berarti kamu tidak pandai mencari uang — mungkin hanya perlu cara baru dalam mengaturnya. Dengan pembagian keuangan yang jelas, rekening terpisah, pencatatan sederhana, dan sedikit pengendalian diri saat ingin belanja, kamu bisa merasakan perubahan dalam beberapa bulan ke depan.
Keuangan sehat bukan soal besar gaji, tapi soal bagaimana kamu mengaturnya.