Edukasi Pinjol

Mengapa Daya Beli Menurun? Penyebab dan Solusinya untuk Keuangan Pribadi

A
Administrator
15 Oct 2025
Mengapa Daya Beli Menurun? Penyebab dan Solusinya untuk Keuangan Pribadi

Pernah nggak sih kamu merasa aneh? Rasanya gaji bulanan cuma numpang lewat doang. Baru pertengahan bulan, dompet sudah mulai teriak minta tolong. Kamu lihat lagi slip gaji, kayaknya ada kenaikan dibanding tahun lalu, tapi kok rasanya hidup makin ngepas, ya? Mau beli barang yang dulu gampang kebeli, sekarang harus mikir dua kali. Kalau kamu merasakan hal ini, kamu nggak sendirian. Fenomena ini ada namanya, dan ini bukan cuma perasaanmu saja, tapi sebuah kenyataan ekonomi yang disebut penurunan daya beli.

Ini bukan soal boros atau tidak, lho. Ini adalah masalah yang lebih besar yang diam-diam menggerogoti kesehatan finansial kita semua. Kita kerja makin giat, tapi rasanya hasil yang didapat nggak sepadan dengan harga kebutuhan yang makin melambung. Artikel ini akan mengajak kamu untuk menyelami lebih dalam, mengupas tuntas apa itu daya beli, kenapa bisa menurun drastis, dan yang paling penting, gimana caranya kita bisa fight back dan mengambil alih kendali keuangan pribadi kita lagi. Siap? Yuk, kita mulai!


Konsultasi Gratis Sekarang!

 

Memahami Apa Itu Daya Beli dan Kenapa Ini Penting Banget

Sebelum kita ngobrolin penyebab dan solusinya, kita samakan persepsi dulu, ya. Apa sih sebenarnya daya beli itu? Gampangnya begini: daya beli adalah kemampuan sejumlah uang untuk membeli barang atau jasa. Ini bukan soal seberapa banyak uang yang kamu punya, tapi soal seberapa banyak yang bisa kamu dapatkan dengan uang itu.

Coba kita bayangkan. Mungkin 10 tahun lalu, uang Rp100.000 bisa kamu pakai untuk belanja kebutuhan pokok untuk seminggu. Kamu bisa dapat beras, minyak, telur, mie instan, dan mungkin masih ada sisa buat jajan. Sekarang, coba bawa uang dengan nominal yang sama ke supermarket. Paling-paling hanya cukup untuk beberapa barang saja, kan? Nah, itulah bukti nyata bahwa daya beli uang kita telah menurun. Nominalnya sama, Rp100.000, tapi "kekuatannya" untuk membeli barang sudah jauh berkurang.

Kenapa ini penting banget untuk dipahami? Karena daya beli adalah termometer kesehatan keuangan kita yang sesungguhnya. Gaji yang naik sekian persen nggak akan ada artinya kalau harga-harga kebutuhan naik lebih tinggi. Inilah yang sering bikin kita terjebak dalam rat race—merasa terus berlari tapi nggak pernah sampai ke tujuan finansial. Mengerti konsep ini adalah langkah pertama untuk sadar dan mulai mencari jalan keluar dari masalah keuangan yang mungkin sedang kamu hadapi.

 

Faktor Utama yang Bikin Daya Beli Kamu Menurun Drastis

Penurunan daya beli nggak terjadi begitu saja. Ada beberapa biang keladi yang bekerja di belakang layar, entah kita sadari atau tidak. Beberapa di antaranya datang dari luar (faktor eksternal), tapi ada juga yang berasal dari kebiasaan kita sendiri (faktor internal).

 

1. Inflasi, Si Biang Kerok Kenaikan Harga

Ini dia tersangka utamanya: inflasi. Kamu pasti sering dengar kata ini di berita. Secara sederhana, inflasi adalah proses kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Ketika inflasi terjadi, nilai uang kita secara otomatis tergerus. Uang yang kamu pegang hari ini akan punya nilai lebih rendah di masa depan. Kenaikan harga secangkir kopi di kafe langgananmu, naiknya ongkos transportasi, hingga mahalnya harga bahan pokok, semua itu adalah dampak langsung dari inflasi.

Inflasi ini seperti pencuri tak terlihat. Dia nggak mengambil uang dari dompetmu secara fisik, tapi dia mengambil "nilai" dari setiap lembar uang yang kamu miliki. Kalau kenaikan gajimu setiap tahun cuma 5%, sementara laju inflasi mencapai 6% atau lebih, artinya secara riil kamu sebenarnya makin "miskin" karena daya belimu tergerus 1%. Inilah alasan kenapa sekadar menabung di bank kadang nggak cukup untuk masa depan, karena bunga tabungan seringkali kalah cepat dengan laju inflasi.

 

2. Pendapatan yang Stagnan, Gaji Nggak Kejar-Kejaran Sama Harga

Faktor kedua yang sangat berhubungan dengan inflasi adalah pendapatan yang tidak seimbang. Banyak dari kita yang mungkin mengalami kenaikan gaji tahunan, tapi seringkali kenaikannya tidak signifikan. Angkanya mungkin terlihat bagus, tapi seperti yang dibahas sebelumnya, kenaikan itu menjadi sia-sia jika tidak bisa mengalahkan laju inflasi. Kamu merasa sudah bekerja keras, lembur setiap hari, tapi kondisi keuangan tetap stagnan atau bahkan menurun.

Ini adalah kenyataan pahit bagi banyak pekerja. Kita berada dalam posisi di mana biaya hidup terus berlari kencang, sementara pendapatan kita hanya berjalan santai. Kesenjangan inilah yang menciptakan tekanan finansial. Kita jadi harus memutar otak lebih keras setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Keinginan untuk menabung, berinvestasi, atau sekadar menikmati hidup jadi terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.

 

3. Perubahan Gaya Hidup dan Godaan Konsumtif (Lifestyle Creep)

Nah, kalau yang ini datangnya dari diri kita sendiri. Namanya lifestyle creep atau inflasi gaya hidup. Ini adalah kondisi di mana pengeluaran kita ikut meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan. Baru dapat promosi dan gaji naik? Tiba-tiba kita merasa "pantas" untuk ganti HP baru, langganan streaming yang lebih premium, atau lebih sering nongkrong di kafe mahal. Nggak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras, tapi jika tidak terkendali, ini bisa sangat berbahaya.

Godaan ini semakin besar di era media sosial. Kita melihat teman-teman liburan ke tempat keren, pakai barang-barang bagus, dan kita merasa harus mengikuti standar tersebut. Tekanan sosial ini secara tidak sadar membuat kita mengadopsi gaya hidup di luar kemampuan finansial kita. Akibatnya, kenaikan gaji yang seharusnya bisa meningkatkan daya beli, malah habis untuk membiayai gaya hidup baru. Ujung-ujungnya, kita tetap merasa kekurangan uang, padahal pendapatan sudah lebih besar.

 

4. Utang Konsumtif yang Menggerogoti, Terutama Pinjol

Ketika pendapatan terasa kurang dan gaya hidup menuntut lebih, seringkali jalan pintas yang diambil adalah utang, terutama utang konsumtif. Fasilitas seperti kartu kredit, cicilan tanpa kartu (paylater), hingga pinjaman online (pinjol) memang menawarkan kemudahan. Namun, kemudahan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Bunga yang tinggi dan tenor yang singkat pada pinjaman konsumtif, khususnya pinjol, bisa menjadi monster yang menggerogoti keuanganmu.

Setiap bulan, sebagian besar gajimu bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan atau menabung, melainkan untuk membayar cicilan dan bunga. Ini secara langsung membunuh daya beli kamu. Uang yang seharusnya bisa kamu gunakan untuk membeli makanan bergizi, membayar premi asuransi, atau berinvestasi, justru lari ke kantong lembaga pemberi pinjaman. Semakin banyak utang konsumtif yang kamu miliki, semakin sedikit sisa uang yang benar-benar menjadi "milikmu". Kamu terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang yang membuat kondisi finansialmu semakin parah dari waktu ke waktu.

 

Strategi Cerdas Mengatasi Penurunan Daya Beli

Setelah tahu penyebabnya, jangan langsung pesimis! Penurunan daya beli memang nyata, tapi bukan berarti kita tidak bisa melawannya. Ada banyak strategi cerdas yang bisa kita terapkan untuk mengambil kembali kendali atas keuangan kita. Ini bukan sulap, butuh proses dan disiplin, tapi hasilnya pasti sepadan.

 

Membuat Anggaran Realistis, Bukan Cuma Wacana

Langkah paling fundamental adalah membuat anggaran atau budgeting. Bukan anggaran yang kaku dan menyiksa, tapi yang realistis sesuai kondisi kamu. Coba gunakan metode sederhana seperti 50/30/20, di mana 50% pendapatan untuk kebutuhan (kebutuhan pokok, cicilan penting), 30% untuk keinginan (hiburan, jajan), dan 20% untuk tabungan/investasi/dana darurat. Kuncinya adalah mencatat semua pengeluaran selama sebulan penuh. Dengan begitu, kamu akan tahu ke mana saja uangmu pergi dan pos mana yang bisa dihemat. Anggaran adalah peta jalan keuanganmu, tanpanya kamu hanya akan berjalan tanpa arah.

 

Mencari Sumber Penghasilan Tambahan (Side Hustle)

Jika mengandalkan satu sumber pendapatan saja terasa berat untuk melawan inflasi, maka inilah saatnya mempertimbangkan untuk mencari penghasilan tambahan. Di era digital ini, peluang sangat terbuka lebar. Kamu bisa menjadi freelancer sesuai keahlianmu (menulis, desain grafis, admin media sosial), membuka toko online, menjadi dropshipper, atau bahkan memanfaatkan hobimu menjadi sumber cuan. Penghasilan tambahan ini bisa menjadi senjata ampuh untuk meningkatkan daya belimu secara signifikan. Uang ekstra ini bisa kamu alokasikan sepenuhnya untuk investasi atau mempercepat pelunasan utang.

 

Bijak Berutang dan Menyelesaikan yang Sudah Ada

Utang adalah beban terbesar bagi daya beli. Oleh karena itu, berusahalah untuk bijak dalam berutang. Bedakan antara utang produktif (seperti KPR atau modal usaha) dengan utang konsumtif (untuk gaya hidup). Hindari menambah utang konsumtif baru. Fokuslah untuk menyelesaikan utang yang sudah ada, terutama yang bunganya paling tinggi seperti pinjol. Buatlah daftar utangmu dan susun strategi untuk melunasinya satu per satu.

Namun, kami di Bisalunas paham bahwa terkadang melunasi utang pinjol tidak semudah itu. Bunga yang menumpuk dan tekanan dari penagihan bisa membuat stres dan putus asa. Jika kamu merasa terjebak dalam lilitan pinjol dan itu benar-benar menghancurkan daya belimu, jangan hadapi sendirian. Layanan seperti Bisalunas hadir untuk menjadi partner mediasi kamu. Kami membantu menjembatani komunikasi dengan pihak pinjol untuk mencarikan program keringanan yang sesuai dengan kemampuanmu. Tujuan kami adalah membantumu keluar dari jeratan utang agar kamu bisa bernapas lega dan mulai membangun kembali kekuatan finansialmu.

 

Investasi, ‘Memaksa’ Uang Kamu Tumbuh

Menabung saja tidak cukup untuk melawan inflasi. Kamu perlu membuat uangmu bekerja untukmu, yaitu melalui investasi. Jangan bayangkan investasi itu rumit dan butuh modal besar. Kamu bisa mulai dari yang sederhana dan terjangkau seperti reksa dana pasar uang, menabung emas digital, atau membeli saham dengan nominal kecil. Tujuan investasi adalah agar pertumbuhan nilai asetmu bisa melampaui laju inflasi dalam jangka panjang. Dengan berinvestasi secara rutin dan disiplin, kamu sedang membangun fondasi agar daya beli kamu di masa depan tidak hanya bertahan, tapi juga meningkat.

 

Cek juga: Strategi Finansial Agar Tak Terjebak Saat Inflasi Naik

 

Kesimpulan: Ambil Kendali Penuh Atas Keuanganmu

Penurunan daya beli adalah tantangan nyata yang kita hadapi bersama. Kenaikan harga, pendapatan yang tak seimbang, gaya hidup, dan jeratan utang adalah kombinasi yang bisa membuat kondisi keuangan kita morat-marit. Namun, dengan pemahaman yang benar dan strategi yang tepat, kita bisa mengambil alih kendali.

Mulailah dari hal kecil: buat anggaran, catat pengeluaran, cari celah untuk menambah penghasilan, dan yang terpenting, selesaikan utang-utang yang memberatkan. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti Bisalunas jika kamu kesulitan menghadapi masalah utang pinjol. Ingat, kesehatan finansial adalah perjalanan, bukan tujuan akhir. Setiap langkah kecil yang kamu ambil hari ini akan berdampak besar pada kekuatan dan kesejahteraan finansialmu di masa depan.


Konsultasi Gratis Sekarang!

 

Pertanyaan Umum (FAQ)


Apa itu daya beli secara sederhana?

Secara sederhana, daya beli adalah kekuatan atau kemampuan uangmu untuk ditukarkan dengan barang atau jasa. Contohnya, jika dulu Rp50.000 bisa untuk makan siang tiga kali, sekarang mungkin hanya cukup untuk sekali makan. Ini berarti daya beli uang Rp50.000 tersebut telah menurun.

Ini adalah masalah umum. Daya belimu bisa tetap menurun meskipun gaji naik jika persentase kenaikan gajimu lebih kecil daripada laju inflasi (kenaikan harga barang dan jasa). Selain itu, "inflasi gaya hidup", di mana pengeluaranmu ikut naik seiring kenaikan gaji, juga bisa menjadi penyebab utamanya.

 

Tidak ada satu cara instan, tapi kombinasi beberapa strategi adalah yang paling efektif. Cara tercepat adalah dengan melakukan dua hal secara bersamaan: menekan pengeluaran yang tidak perlu (melalui anggaran ketat) dan meningkatkan pemasukan (melalui side hustle atau negosiasi gaji). Jika kamu memiliki utang berbunga tinggi, melunasinya secepat mungkin juga akan secara dramatis meningkatkan daya beli karena lebih banyak uang yang bisa kamu gunakan untuk dirimu sendiri.


Konsultasi Gratis Sekarang!

Butuh Bantuan Mediasi Utang?

Tim ahli kami siap membantu Anda menyelesaikan masalah hutang pinjaman online. Konsultasi GRATIS!

Konsultasi via WhatsApp
Bisalunas Logo

Solusi finansial terpercaya untuk membantu Anda mencapai kebebasan finansial dengan aman dan nyaman.

Kontak

  • Menara Anugrah, Lt. 16, Unit 16.A, Jl. Dr. Ide Anak Agung Gde Agung Lot. 8.6-8.7, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 12950
  • 0858-6600-6000
  • cs@bisalunas.id

Terdaftar di Komdigi

015358.01/DJAI.PSE/08/2024

Perhatian

  1. 1. Bisalunas merupakan layanan mediasi yang membantu masyarakat yang memiliki kendala dalam pembayaran pinjaman daring dengan cara menjembatani komunikasi antara debitur dan pihak pemberi pinjaman secara legal, manusiawi, dan transparan.
  2. 2. Bisalunas bukan lembaga keuangan, bukan penyedia pinjaman (lender), dan tidak melakukan kegiatan penagihan atau pemberian dana dalam bentuk apa pun. Peran Bisalunas terbatas pada proses mediasi agar tercapai kesepakatan yang adil antara kedua pihak.
  3. 3. Pengguna layanan disarankan untuk memahami sepenuhnya risiko, ketentuan, dan kemampuan finansialnya sebelum menyetujui hasil mediasi atau rencana pembayaran. Bisalunas akan memberikan panduan dan informasi secara objektif, namun tidak menjanjikan penghapusan, pengurangan, ataupun keberhasilan negosiasi dalam jumlah tertentu.
  4. 4. Dalam pelaksanaan layanan, Bisalunas dapat mengumpulkan dan mengelola data pribadi pengguna sesuai dengan persetujuan eksplisit yang diberikan oleh pengguna. Seluruh data digunakan hanya untuk keperluan mediasi dan dijaga sesuai dengan peraturan perlindungan data pribadi yang berlaku di Indonesia.
  5. 5. Dengan menggunakan layanan Bisalunas, pengguna dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui seluruh ketentuan ini. Keputusan untuk melanjutkan proses mediasi berarti pengguna menyadari sepenuhnya peran, batasan, serta tanggung jawab masing-masing pihak.
  6. 6. Bisalunas berkomitmen untuk menjalankan kegiatan secara etis, transparan, dan sesuai hukum, demi membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan pinjaman online secara bertanggung jawab dan bermartabat.

© 2025 Bisalunas. Seluruh hak cipta dilindungi.

Bisalunas

Bisalunas Verified

Fast Response

Sulit atur tagihan pinjol? Yuk, cari solusi bersama Bisalunas. Kami bantu mediasi untuk mengurangi beban tagihan kamu. Konsultasi GRATIS!